KTQS # 2251
KEDUDUKAN SHALAT QASHAR SAAT SAFAR
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adakalanya mengqashar shalat ketik safar dan adakalanya tidak mengqashar shalat. Kadangkala beliau puasa dan kadangkala tidak berpuasa saat safar”. (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni. Para perawinya dapat dipercaya, hanya saja hadits ini ma’lul).
Adapun yang mahfuzh dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah dari perbuatannya dan ia berkata, “Sesungguhnya hal itu tidak berat bagiku.” (HR. Al-Baihaqi) [HR. Ad-Daruquthni, 2:189. Ad-Daruquthni menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan mengatakan bahwa sanad hadits sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam, 3: 431).
Faedah hadits
1. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengqasahar shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, terkadang beliau tetap mengerjakannya secara sempurna (itmam, empat rakaat). Ketika safar boleh qashar, boleh itmam (sempurna empat rakaat)
2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang berpuasa saat safar, terkadang beliau tidak berpuasa saat safar.
3. Namun, yang tepat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah mengerjakan shalat secara itmam saat safar, yaitu mengerjakan empat rakaat. Hadits yang menyebutkan itmam adalah hadits yang syadz, menyelisihi riwayat yang lebih utama. Maknanya Lebih utama shalat diqashar saat safar.
KETERANGAN ISTILAH
Imam Syafi’ dalam merumuskan definisi hadis syadz mengatakan, hadis syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang tsiqah, berbeda dengan hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang semuanya tsiqah.
Sedangkan mahfuzh adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih maqbul(diterima)
Hadits Mu’allal (Ma’lul, Mu’all) adalah hadits yang tampaknya baik, namun setelah diadakan suatu penelitian dan penyelidikan ternyata ada cacatnya.
Tsiqah (terpercaya) karena orang yang meriwayatkannya memiliki sifat adil,istiqamah,berakhlak.
DZIKIR KETIKA TAKJUB MELIHAT HAL DUNIAWI
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bila melihat suatu
perkara dunia yang membuatnya takjub, beliau mengatakan:
LABBAIK, INNAL ‘AISYA ‘AISYUL AKHIRAH
“Aku penuhi panggilanmu ya Allah, Sungguh kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akherat”
(HR. Bukhari 2834, Muslim 1805)
Karena kehidupan yang membuatmu takjub ini adalah kehidupan yang pasti sirna, sedang kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akherat.

