KTQS # 2227
APAKAH I’TIKAF HARUS SEMPURNA?
Permasalahan: apakah harus menyempurnakan i’tikaf apabila dia telah memulai, atau boleh baginya untuk keluar jika mau?
Pendapat Syafi’i dan Ahmad tidak harus, boleh baginya untuk keluar apabila dia mau; karena tidak adanya dalil yang mengharuskan dia menyempurnakan i’tikaf, dan telah valid di dalam Shahih Bukhari dan Muslim (¹), bahwa nabi apabila beliau hendak i’tikaf maka beliau memerintahkan untuk membuat bilik kecil untuknya maka dibuatkan, kemudian Aisyah meminta izin kepadanya, dan beliau memberikan izin untuknya, maka dibuatkan bilik kecil untuknya, kemudian Hafshah meminta izin, kemudian Zainab radhiyallahu anhunna, lalu ketika nabi shalat Subuh beliau pun melihat dan ternyata telah ada beberapa bilik kecil, dan beliau pun bersabda:
“Kebaikan apa yang kalian inginkan?” Beliau lalu memerintahkan agar bilik-bilik itu dibongkar, lalu beliau batalkan i’tikaf di bulan Ramadhan. Sehingga beliau i’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Syawal.
Dan imam Malik berpendapat harus menyempurnakannya dengan niat ketika masuk memulai i’tikaf; jika dia memutuskannya maka wajib baginya untuk meng-qadha nya, dan Ibnu Abdil Barr mengklaim bahwa itu adalah ijma’, namun klaimnya itu tidaklah benar sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Ibnu Qudamah, adapun qadha nabi maka sesungguhnya beliau melakukan itu hanyalah sebagai amalan sunnah; karena sesungguhnya beliau apabila telah melakukan suatu amalan maka beliau akan memastikan terjadi, dan yang menunjukkan bahwa qadha bukan wajib adalah bahwa beliau tidak memerintahkan para istrinya untuk meng-qadha nya, dan pendapat pertama yang rajih (kuat), wallahu a’lam.
Lihat: “Al-Mughni” (3/63-64).
(¹). Dikeluarkan oleh Bukhari (2033), dan Muslim (1173) dari hadits Aisyah radhiyallahu anha.
( Ithaful Anam Bi Ahkam wa Masail As-Shiyam karya Syaikh kami Abu Abdillah Muhammad Hizam Al-Ba’daniy hafizhahullah hal. 238)

