KTQS #2172
KENAPA DALAM SHALAT ADA BACAAN IMAM DIKERASKAN DAN LIRIH
Dalil tentang aturan jahr (keras) dan sirr (lirih) dalam shalat 5 waktu.
SHALAT MAGHRIB
Hadits dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat At-Thur pada shalat Maghrib” (HR. Muslim no. 463).
Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Bahwa Ummul Fadhl mendengarnya membaca surat wal mursalaati ‘urfaa. Kemudian Ummul Fadhl berkata, ‘wahai anakku, demi Allah engkau telah mengingatkan aku dengan bacaan surat ini bahwa ini adalah surat yang dibaca ketika shalat maghrib terakhir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam‘.” (HR. al-Bukhari no.763, Muslim no.462)
Secara tegas menunjukkan bahwa para sahabat mendengar bacaan al-Qur’an Nabi dalam shalat Maghrib. Ini menunjukkan bahwa beliau membacanya dengan jahr (keras).
SHALAT ISYA
Hadits dari al-Barra’ bin Adzib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca “Wat tiini waz zaitun” dalam shalat Isya. Tidak pernah aku mendengar orang yang lebih bagus suaranya melebihi beliau.” (HR. al-Bukhari no.733, Muslim no.464)
Hadits ini juga menunjukkan bahwa para sahabat mendengar bacaan al-Qur’an Nabi dalam shalat Isya. Ini menunjukkan bahwa beliau membacanya dengan jahr (keras).
SHALAT SHUBUH
Hadits dari Quthbah bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Ia pernah shalat subuh bersama bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pada rakaat pertama membaca ayat “baasiqaatin lahaa thal’un nadhiid” (surat Qaaf ayat 10).” (HR. Muslim no. 457)
Hadits dari ‘Amr bin Harits radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat shubuh membaca “idzasy syamsu kuwwirat” (surat at-Takwir).” (HR. an-Nasa’i dalam ash-Shughra no.941)
DHUHUR DAN ASHAR
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu,
“Kami mengira-ngira panjang shalat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam ketika shalat zuhur dan ashar. Kami mengira-ngira dua rakaat pertama beliau pada shalat zuhur yaitu sekadar bacaan surat Alif laam miim tanzil (as-Sajdah). Dan kami mengira-ngira dua rakaat terakhir beliau sekitar setengah dari itu. Dan kami mengira-ngira dua rakaat pertama beliau pada shalat ashar itu seperti dua rakaat akhir beliau pada shalat zuhur. Dan dua rakaat terakhir beliau pada shalat ashar itu sekitar setengahnya dari itu. Dalam riwayat Abu Bakar tidak disebutkan Alif laam miim tanzil, namun ia berkata: “sekitar 30 ayat.” (HR. Muslim no.452)
Perkataan Abu Sa’id “kami mengira-ngira” karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidak memperdengarkan bacaannya (dibaca sirr). Sehingga untuk mengetahui panjang-pendek bacaannya adalah dengan mengira-ngira.
Dalam hadits dari Khabbab bin al-Arat radhiyallahu ‘anhu, ada yang bertanya kepada beliau:
“Apakah pada shalat zuhur dan ashar Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat al-Qur’an? Khabbab menjawab: Iya. Orang tadi bertanya lagi: Bagaimana kalian mengetahuinya? Khabbab menjawab: Dari gerakan jenggot beliau.” (HR. al-Bukhari no.713)
Hadits ini juga secara tegas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengeraskan suara bacaan Al Qur’an dalam shalat zuhur dan ashar.

