KTQS # 2475 Memang ada orang rajin ibadah tapi menjadi penduduk neraka?

KTQS # 2475

Memang ada orang rajin ibadah tapi menjadi penduduk neraka?

Ada, Ini penyebabnya!

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu,
Dikatakan kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah itu dia shalat malam dan puasa di siang hari, dan bersedekah. Namun dia juga sering menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Kemudian Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya. Dia penghuni neraka.”
(Al-Adab Al-Mufrad 88)

“Seorang yang senantiasa mengganggu tetangganya niscaya tidak akan masuk surga.” (Shahih) Lihat As Silsilah Ash Shahihah (549): [Muslim: 1-Kitabul Iman, hal. 73]

Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

Artinya: “Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari no.6014)

Agama Islam menaruh perhatian yang sangat besar kepada pemeluknya dalam segala hal dan urusan.

Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi, semua tidak luput dari ajarannya.

Diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya”. (Muttafaq ‘alaih)

Berkata Al-Hafizh (yang artinya): “Syaikh Abu Muhammad bin Abi
Jamrah mengatakan, ‘Dan terlaksananya wasiat berbuat baik kepada tetangga dengan menyampaikan beberapa bentuk perbuatan baik kepadanya sesuai dengan kemampuan. Seperti hadiah, salam, wajah yang berseri-seri ketika bertemu, memperhatikan keadaannya, membantunya dalam hal yang la butuhkan dan selainnya, serta menahan sesuatu yang bisa mengganggunya dengan berbagai macam cara, baik secara hissiyyah (terlihat) atau maknawi (tidak terlihat):” (Fathul Baari: X/ 456).

Kata tetangga mencangkup tetangga yang muslim dan juga yang kafir, ahli ibadah dan orang fasik, teman dan lawan, orang asing dan penduduk asli, yang memberi manfaat dan yang memberi mudharat, kerabat dekat dan bukan kerabat dekat, rumah yang paling dekat dan paling jauh. Demikian yang dikatakan oleh lonu Hajar rahimahullahu dalam al-Fath (X/456).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *