KTQS #2163 Mengapa Anak Durhaka Kepada Orang Tua?

KTQS #2163

Mengapa Anak Durhaka Kepada Orang Tua?

Adapun penyebab durhaka, boleh jadi karena kesalahan orang tua dalam mendidik, misalnya anak dibiarkan tidak dididik dengan ajaran Islam, orang tua menyekolahkan anak di tempat pendidikan keduniaan belaka, atau lingkungan yang tidak mendukung perbaikan moral anak, atau perilaku anak yang salah karena lemah iman.

Atau penyebab lain sebagai berikut:

• Orang tua tidak berbuat adil kepada anaknya

Orang tua yang tidak adil ketika memberi sesuatu kepada anak boleh jadi akan mengakibatkan anak durhaka kepada orang tua, anak akan bermusuhan dengan anak yang lain. An-Nu’man bin Basyir Radhiallahu’anhu ketika ayahnya memberinya seorang budak,

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertanya:

“Milik siapa budak ini?” Dia menjawab, “Ini pemberian ayahku.” Lalu beliau bertanya kepada ayahnya, “Apakah setiap saudaranya kau beri seperti dia?” Kata si ayah, Tidak.” Beliau berkata, “Cabut kembali pemberianmu.” (HR. Muslim: 3054)

• Orang tua durhaka kepada anaknya.

Bagaimana bisa terjadi? Bisa saja, misalnya orang tua tidak mau mengurusi anaknya, bahkan selalu berbuat kasar kepadanya. Maka anak yang belum mengenal pendidikan Islam, tentu dia lebih mudah durhaka kepada orang tua.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Orang yang tidak berbelas kasihan tidak akan dibelas kasihani.” (HR. Bukhari: 5554)

• Suami tidak beradab ketika menceraikan istrinya.

Ini termasuk kesalahan orang tua juga, sehingga mengakibatkan anak durhaka kepada bapaknya.

• Orang tua selalu menjauh dari anaknya.

Tidak diragukan lagi bahwa pergaulan yang akrab antara orang tua dengan anak membuat hubungan yang harmonis antara dua belah pihak. Sebaliknya, jika saling menjauh akan menumbuhkan kerenggangan, terutama bagi anak, karena anak kurang merasa mendapat bimbingan dan santunan dari orang tua.

• Orang tua tidak ingin direpotkan oleh anak.

Misalnya, ketika anak sakit atau ada keperluan, urusannya diserahkan kepada orang lain. Orang tua tidak mau direpotkan oleh anak. Orang tua tidak merawatnya atau sekadar menjenguknya bila di tempat yang jauh. Hal ini boleh jadi akan mengundang kedurhakaan anak kepada orang tua di masa mendatang.

• Orang tua ingin menang sendiri (sewenang-wenang).

Kita jumpai sebagian orang tua berwatak keras, apa kemauannya harus dituruti, tanpa melihat maslahat dan madharat, tidak minta pertimbangan atau bermusyawarah sebelumnya. Hal ini boleh jadi yang menyebabkan anak akan durhaka kepada kedua orang tua nanti.

Karena itu, ada baiknya bila orang tua mengajak musyawarah anaknya, semisal Nabi Ibrahim Alaihissalam meminta pendapat putranya, Nabi Isma’il Alaihissalam tentang impiannya saat diperintah untuk menyembelih anaknya.

• Orang tua selalu memanjakan anak.

Memanjakan anak sangat berbahaya bagi kehidupun anak pada masa depan, karena ia akan selalu menuntut orang tua. Bila tidak dikabulkan, anak akan melawan atau durhaka kepada orang tua. Terlebih lagi bila ia hanya anak tunggal.

• Orang tua sering marah kepada anaknya.

Orang tua sering marah kepada anak; berarti mengajari anak marah kepada orang tuanya atau minimalnya membuat panik pikiran anak. Memang marah dibolehkan, namun bila pada saat diperlukan dan ada maslahatnya. (Lihat QS. Ali ‘Imran: 159)

• Anak tidak memahami makna birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Anak yang tidak mengenal birrul walidain kepada orang tua mustahil akan berbuat baik kepadanya. Hal ini bisa jadi kesalahan orang tua yang tidak mengajari anaknya.

• Anak tidak mengerti bahayanya durhaka kepada kedua orang tua.

Anak yang tidak mengenal larangan Allah dan Rasul-Nya tentang bahaya durhaka kepada orang tua, tentu dia akan mudah durhaka kepada mereka.

• Anak tidak mendalami akidah yang benar.

Anak yang tidak mengenal akidah Islam yang benar, mustahil dia berbuat baik kepada orang tua. lihatlah pesan Luqman kepada anaknya dalam QS. Luqman ayat 13 dan seterusnya.

• Berkawan dengan teman yang ahli maksiat.

Lingkungan dan pergaulan sangat berarti bagi kehidupan anak, terutama saat menginjak baligh. Apalagi anak tidak mengerti pendidikan syariat Islam. Oleh sebab itu, anak harus dijauhkan dari teman yang jelek. Rasulullah

Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Orang itu bersandar agama teman dekatnya. Karena itu hendaklah salah satu di antara kamu melihat siapa temannya.” (HR. Abu Dawud: 4197, at-Tirmidzi: 2774)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *