KTQS #2162
ANAK DURHAKA
Anak hendaknya diajari, bahwa dosa yang sangat besar setelah dosa syirik (menyekutukan Allah) adalah durhaka kepada kedua orang tua.
Dua dosa ini paling besarnya dosa, karena Allah yang menciptakan manusia dan yang memenuhi kebutuhannya, maka siapa pun berbuat syirik tidak diampuni dosanya oleh Allah Azza wajalla, kecuali setelah bertaubat dengan sebenar-benarnya.
Yang kedua, dosa durhaka kepada kedua orang tua, karena orang tua penyebab lahirnya manusia, yang merawat semenjak kecil sampai dewasa.
Dalam hadits Nafi’ bin al-Harits ats-Tsaqafi, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3 kali. Para sahabat mengatakan, “Tentu, wahai Rasulullah”. Nabi bersabda, “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua”. (HR. Bukhari: 6919, Muslim: 269)
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Ada tiga golongan yang Allah tidak melihat mereka besok pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tua…” (HR. an-Nasa’i: 2515)
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda:
“Ada tiga golongan yang mereka tidak masuk surga, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya” (HR. an-Nasai: 2515)
Bukan hanya sekali Rasulullah memperingatkan para sahabat mengenai besarnya dosa durhaka kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa durhaka kepada kedua orang tua.
Apalagi durhaka kepada Ibu jauh lebih besar dosanya.
“Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka kepada para ibu, pelit dan tamak, mengubur anak perempuan hidup-hidup. Allah juga tidak menyukai katanya orang (kabar burung), banyak bertanya dan membuang-buang harta.” (HR. Bukhari: 5630, Muslim: 4580)
Kapan Anak disebut Durhaka Kepada Orangtua?
Durhaka pada orang tua adalah segala bentuk menyakiti orang tua, baik dengan perkataan atau perbuatan, tetapi tidak termasuk durhaka jika anak mendahulukan kewajiban kepada Allah Azza wajalla dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam, karena kewajiban keduanya wajib didahulukan sebelum yang lainnya.
Dan tidak termasuk durhaka juga jika anak tidak menaati perintah atau larangan orang tua yang menyelisihi perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”. (QS. Luqman: 15)
Bentuk durhaka kepada kedua orang tua luas sekali, semisal menerima telepon dengan kasar pun sudah termasuk durhaka. Berkata kasar, bermuka cemberut, tidak mengindahkan perintah orang tua yang baik, disuruh kepada yang halal, anak menolaknya padahal tidak ada udzurnya, apalagi sampai memaki dan mengejek orang tua, ini amat jelas durhakanya.
Mengapa Anak Durhaka Kepada Orang Tua?
Tunggu KTQS selanjutnya

