KTQS # 2507 ASH-SHIDIQ (JUJUR) DAN BOHONG YANG DIBOLEHKAN

KTQS # 2507

ASH-SHIDIQ (JUJUR) DAN BOHONG YANG DIBOLEHKAN

Di dalam hadits ini terdapat perintah kepada kita untuk senantiasa berbuat ash shidq. Ash shidq artinya sesuainya berita yang disampaikan dengan kenyataan yang terjadi.

“Sesungguhnya ash shidq (kejujuran) itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga..” (Mutafaqalaihi)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memninta kepada kita agar bergaul dengan orang orang yang ash-shidiq,

“Hai sekalian orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah engkau semua bersama-sama dengan para shiddiqin (orang-orang yang jujur perilakunya).” (At Taubah: 119)

1. Shidq (jujur) dalam Ucapan
Yakni ketika seseorang ucapannya sesuai dengan apa yang ada di hatinya. Seperti orang yang mengatakan bahwa saya beriman dan memang di hatinya dia beriman maka dia pun telah jujur dalam ucapannya.

Sebaliknya ketika dia mengucapkan bahwa dirinya beriman, tapi di hatinya justru kufur maka ini tidak lah disebut sebagai orang yang shadiq, orang yang jujur, itulah orang-orang yang munafiq bukanlah orang-orang yang beriman, karena ucapan mereka menyelisihi apa yang ada di hati mereka.

2. Shidq (jujur) dalam Perbuatan
Yakni ketika perbuatan seseorang sesuai dengan apa yang ada di hatinya. Orang yang berbuat riya’ tidaklah disebut sebagai shadiq. Ini karena secara lahirnya mereka memang nampak sebagai seorang yang rajin beribadah kepada Allah, tapi di dalam batinnya tidaklah demikian. Ibadah yang mereka lakukan semata-mata agar dilihat oleh manusia.

Berdusta untuk Bercanda

Termasuk kedustaan adalah apa yang dilakukan banyak orang di zaman kita, yakni berdusta dengan maksud untuk melucu atau bercanda.

Dia berdusta agar orang lain yang mendengarnya tertawa. Perkara ini adalah perkara yang dilarang di dalam agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Celakalah orang yang berkata dusta agar orang-orang tertawa! Celakalah dia! Celakalah dia!” (HR. Abu Daud no. 4990)

Dusta yang Diperbolehkan

Seluruh kedustaan hukumnya haram dan semuanya akan mengantarkan kepada perbuatan fujur (jahat).

Dikecualikan dari sini tiga perkara sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Bukannya termasuk pendusta orang yang mendamaikan antara para manusia, lalu ia menyampaikan berita yang baik atau mengatakan sesuatu yang baik.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Muslim disebutkan tambahannya bahwa Ummu Kultsum berkata,
“Saya tidak pernah mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang dibolehkannya berdusta dari ucapan-ucapan yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga hal yaitu di dalam peperangan, mendamaikan antara para manusia dan perkataan seorang suami kepada istrinya serta perkataan istri kepada suaminya (perkataan yang dapat memperbaiki hubungan rumah tangga).”

Namun para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kedustaan di dalam hadits ini bukanlah kedustaan murni, tapi kedustaan yang merupakan tauriyah.

Tauriyah adalah seseorang mengucapkan sesuatu yang menyelisihi hatinya. Ketika dia mengucapkan hal tersebut, agar si pendengar senang, seperti, masakanmu enak, padahal tidak.

Peperangan digunakan untuk siasat kepada musuh. Sedangkan mendamaikan, mengucapkan sesuatu yang menyenangkan kedua belah pihak yang bertikai agar damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *