KTQS # 2500
MINDFULNESS & TU’MANINAH : SHALAT DENGAN TENANG
Banyak cara seperti relaksasi atau untuk menenangkan diri dari stres.
Tapi kalau ketenangan ini diartikan dengan fokus kepada diri sendiri tidak pedulian terhadap sesama, akhirnya mencari ketenangan berubah jadi menghindar dari tanggung jawab sosial.
Hasilnya? Ketenangan yang egois. Nyaman untuk diri sendiri, tapi tidak peka pada penderitaan orang banyak.
Islam sebenarnya sangat peduli soal kesehatan jiwa, ini bagian penting dari tujuan syariat. Tapi Islam tidak pernah mengajarkan ketenangan yang lahir dari sikap masa bodoh.
Belajar dari “Jeda” dalam Salat
Ternyata, konsep menghadirkan pikiran secara penuh ini sudah lama ada dalam salat, lewat thuma’ninah yaitu jeda diam sejenak setelah setiap gerakan salat, sampai semua sendi kembali diam sempurna, sebelum berpindah ke gerakan berikutnya.
Para ulama fikih mendefinisikannya begini:
“Kondisi diamnya seluruh anggota badan sejenak setelah bergerak, hingga setiap persendian kembali ke posisinya semula.”
Pernah ada orang yang salat terburu-buru tanpa jeda ini, lalu Nabi menegurnya:
“Kembalilah dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, salat yang dikerjakan tergesa-gesa tanpa kesadaran dianggap belum sah.
“Jeda” ini melatih kita tenang untuk benar-benar hadir di momen itu bukan sekadar menggerakkan badan sambil pikiran melayang ke mana-mana.
Imam Al-Ghazali, menggambarkan ibadah tanpa kehadiran hati seperti “jasad tanpa ruh” ada bentuknya, tapi kosong maknanya. Kesadaran ini berjalan seiring dengan keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah kita.
Al-Qur’an bahkan menegur keras orang yang salatnya tidak nyambung dengan kepedulian sosial :
“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)
Menurut para ahli tafsir, “lalai” di sini bukan cuma soal telat atau salah bacaan, tapi soal gagal memaknai pesan moral salat yaitu semestinya melahirkan kepedulian pada anak yatim dan orang miskin.
Ini sejalan dengan ayat lain:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Jadi, salat yang benar-benar dihayati harusnya membuat seseorang makin peduli, bukan makin cuek.
Jeda itu punya tujuan: mengisi ulang energi, menjernihkan pikiran supaya setelah itu kita bisa kembali hadir di tengah masyarakat dengan lebih baik. Bukan untuk lari dari kenyataan selamanya.
Ketenangan batin yang sesungguhnya bukan milik orang yang bersembunyi dari masalah dunia. Ketenangan sejati adalah milik mereka yang tetap bisa menjaga kedamaian hati, sambil terus turun tangan membantu sesama.
