KTQS # 2501 Syukur Mengikat Nikmat, Ingkar Mengusir Nikmat

KTQS # 2501

Syukur Mengikat Nikmat, Ingkar Mengusir Nikmat

Syukur akan berbuah kebahagiaan, sedangkan ingkar akan berbuah sengsara.

Setiap nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala perlu disyukuri agar tetap terjaga.

Sebaliknya, mengingkari nikmat berarti membuka jalan bagi hilangnya nikmat tersebut. Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menggambarkan syukur sebagai cara seorang hamba mengikat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan erat.

“Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat maka ia telah menyerahkan diri untuk kehilangan nikmat itu. Barang siapa yang mensyukurinya maka ia telah mengikat nikmat itu dengan erat.” (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam)

Jika kamu tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa nikmat harta, kesehatan, anak-anak, dan lain sebagainya.

Maka sebenarnya kamu sedang mempersiapkan diri untuk kehilangan nikmat tersebut.

Jangan kamu membalas kenikmatan yang diberikan oleh Allah dengan perbuatan maksiat yang kamu lakukan.

Syukurilah semua nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kamu. Selain mendapatkan tambahan nikmat, kamu juga akan mendapatkan pahala dan kenikmatan ruhiyah yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini.

Jika kamu bersyukur maka sebenarnya kamu sedang mengikat dengan kuat nikmat-Nya yang diberikan kepada kamu.

Semakin kamu bersyukur, semakin banyak nikmat­-Nya yang akan diberikan kepada kamu.

Syukur akan berbuah nikmat, sedangkan ingkar akan berbuah sengsara.

Ia mengutip hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

An-Nu’man bin Basyir mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang tidak dapat mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak. Siapa yang tidak berterimakasih kepada sesama manusia, itu sama dengan tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Syukur itu merasa dalam hati, menyebut dengan lidah dan mengerjakan dengan anggota badan.

Berjuta kata Alhamdulillah diucapkanpun tidak ada artinya jika tidak shalat.

Shalatpun ditolak jika termasuk “orang yang lalai dalam shalat” yaitu yang tidak memberi makan orang miskin dan tidak memuliakan anak yatim, termaktub dalam surat al-Ma’un.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *