KTQS # 2243
KUPAS TUNTAS PERBEDAAN PUASA & HARI RAYA, IKUT SIAPA?
Sumber awal perbedaan ini adalah karena perbedaan penetapan awal Dzulhijjah, jika misal, di Saudi tahun tersebut terlihat hilal sehingga mereka menetapkan awal Dzulhijjah adalah Kamis, se- dangkan di Indonesia dinyatakan tidak terlihat sehingga digenapkan dan ditetapkan awal Dzulhijjah adalah hari Jum’at.
Nah, perbedaan ini akhirnya menjadi polemik dan perdebatan panjang. Sebagian, mengatakan hendaknya kita puasa Arofah dan Idhul Adha mengikuti Saudi Arabia karena wukuf Arofah berkaitan dengan tempat yang hanya ada di sana.
Sebagian yang lain mengatakan hendaknya kita tetap mengikuti pemerintah kita masing-masing saja karena Arofah berkaitan dengan waktu bukan tempat.
Dan lebih parah lagi, sebagian yang lain mencoba untuk menengahi, puasa Arofah ikut Saudi tetapi shalat Idhul Adha ikut pemerintah.
Kita kupas permasalahan ini.
PERTAMA : Bukan karena Arofah itu berkaitan dengan tempat atau tidak, tetapi kembali kepada masalah ru’yah hilal Dzulhijjah, apakah bila terli- hat di suatu Negara maka wajib bagi Negara lain- nya untuk mengikutinya ataukah tidak?!
Dengan demikian, maka patokan Arofah adalah tanggal sembilan Dzulhijjah, adapun istilah “Arofah” hanya sekedar mim bab Taghlib (kebanyakan saja).
Marilah kita cermatْi hadits berikut:
“Apabila hilal Dzulhijjah telah terlihat, dan salah seorang diantara kalian hendak berkurban, maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya se- dikitpun hingga ia menyembelih kurbannya”.
Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa patokannya adalah terlihatnya hilal Dzulhijjah.
KEDUA : Kalau akar permasalahannya adalah karena tempat, hal itu berarti semua kaum muslimin harus mengikuti ru’yah Dzulhijjah Saudi Arabia, sedangkan hal ini tidak mungkin dan mustahil, Karena para ulama falak -seperti dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- telah bersepakat bahwa mathla’ hilal itu berbeda-beda.
KETIGA : Kalau semua kaum muslim sedunia harus mengikuti ru’yah Saudi dalam Arofah, kita berfikir jernih dan bertanya-tanya : Kalau begitu, bagaimana dengan orang-orang dulu yang tidak memiliki Hp atau telpon seperti pada zaman se- karang?! Apakah mereka menunggu khabar dari saudara mereka yang berada di Arofah saat itu?! Apakah perbedaan seperti ini hanya ada pada zaman kita saja?! Bukankah perbedaan seperti sudah ada sejak dahulu?!
Al-Hafizh Ibnu Rojab menceritakan bahwa pada tahun 784 H terjadi perselisihan di Negerinya tentang hilal Dzul Qo’dah yang secara otomatis terjadi perbedaan tentang hari Arofah dan idhul adha-nya.
Karenanya di zaman Ibnu Hajar terjadi perbedaan antara penduduk mekah dan penduduk Mesir dalam menentukan hari Arofah dan hari raya ‘Idul Adha. Demikian juga Al-Hafizh Ibnu Hajar, beliau berkata:
“Tatkala itu wuquf (padang Arofah) di Mekah hari jum’at -setelah terjadi perselisihan-, sementara hari raya idul adha di Kairo (Mesir) adalah hari jum’at”. Seandainya para ulama dulu ikut ru’yah Saudi Arabia, lantas kenapa ada perselisihan semacam ini?!
KEEMPAT : Jika memang yang ditujukkan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya para jama’ah haji di padang Arofah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Sorong Irian Jaya, yang perbe- daan waktu antara Mekah dan Sorong adalah 6 jam?.
Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Mekah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam. Dan tatkala penduduk Mekah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Mekkah-, maka di Sorong sudah jam 6 maghrib?. Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf??
KELIMA : Jika seandainya terjadi malapetaka atau problem besar atau bencana atau peperangan, sehingga pada suatu tahun ternyata jama’ah haji tidak bisa wukuf di padang Arofah, atau tidak bisa dilaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, maka apakah puasa Arofah juga tidak bisa dikerjakan karena tidak ada jama’ah yang wukuf di padang Arofah? Jawabannya tentu tetap boleh dilaksanakan puasa Arofah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arofah. Ini menunjukkan bahwa puasa Arofah yang dimaksudkan adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah. (ZAM)
Wallahu’alam bishawab.
Semoga bermanfaat

