KTQS # 2236
Dua Penyanyi Kecil di Hari Raya
Suatu hari saat lebaran, Abu Bakar datang ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar kaget karena ada dua anak perempuan bernyanyi (suara saja). Dalam riwayat lain disebutkan dengan duf (semacam rebana). Abu Bakar marah pada Aisyah, kok bisa ada orang menyanyi (menyanyikan syair-syair perang Bu’ats) di dekat Nabi?
Kisah selengkapnya bisa dilihat -di antaranya- dalam Shahih Al Bukhari dan Muslim, juga dalam syarahnya di Fathul Bari & Syarh Shahih Muslim, dll.
Apa yang dinyanyikan 2 anak perempuan di atas adalah syair. Syair yang dinyanyikan atau didendangkan, disebut nasyid. Syair ketika dibaca layaknya syair, tidak disebut dinyanyikan atau dilagukan. Ketika syair dinyanyikan diiringi dengan alat, ini musik. (Sering juga disebut: nasyid yang pakai musik).
Orang yang pandai membuat syair dan bersyair, disebut penyair. Bukan pemusik.
Musik tetap disebut musik, meski tanpa ada syair atau lirik lagu yang dinyanyikan (instrumental).
Penyair pada masa Arab jahiliah tidak disebut sebagai pemusik, meski saat itu sudah ada musik, sesuai zamannya.
Begitu pula pemusik. Mereka bukan penyair, dan tidak disebut sebagai penyair.
Asy Syu’aroo’ (الشعراء) , artinya para penyair. Jamak dari asy sya’ir (الشاعر), seorang penyair.
Kata “Asy Syu’aroo'” dalam surat Asy Syu’aroo’, yang dimaksud adalah para penyair (baik penyair mukmin maupun kafir. Namun yang dicela adalah penyair kafir). Bukan para pemusik. Sependek yang saya tahu, tidak ada ulama salaf maupun khalaf, yang menyebutnya sebagai para pemusik.
Adapun hukum musik, pasti banyak pendapat yang berbeda dan memiliki argumennya sendiri.
Perberdaan pasti ada tak bisa dihindari karena itu saling menghargai saja.
Wallahu a’lam.

