KTQS # 22219
SHALAT TARAWIH
PADA ZAMAN NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM
Hadits Abu Dzar Radhiyallahu anhu,
“Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Hadits shahih. Lihat Al ljabat Al Bahiyyah, 7)
Hadits ini sekaligus juga memberikan anjuran, agar melakukan shalat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.
Ada sebagian orang berpendapat, shalat Tarawih berjama’ah baru dikerjakan pada zaman khalifah Umar binKhaththab.
Benarkah demikian? Mari kita tengok sejarah melalui hadits-hadits serta riwayat-riwayat shahih apa yang terjadi pada zaman Nabi dan bagaimana yang terjadi pada masa Khulafa’ur Rasyidin.
Shalat Tarawih Pada Zaman Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan dan memimpin shalat tarawih. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan fadhilahnya, dan menyetujui jama’ah tarawih yang dipimpin oleh sahabat Ubay bin Ka’ab.
Berikut ini adalah dalil-dalil yang menjelaskan, bahwa shalat tarawih secara berjama’ah disunnahkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan dilakukan secara khusyu’ dengan bacaan yang panjang.
Hadits Nu’man bin Basyir, Radhiyallahu anhu : la berkata: “Kami melaksanakan qiyamul lail (tarawih) bersama Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 bulan Ramadhan, sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan (berakhir) sampai separoh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al Hakim. Shahih)
Hadits Abu Dzar Radhiyallahu
anhu : la berkata:
“Kami puasa, tetapi Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk
melakukan shalat (tarawih),
hingga Ramadhan tinggal tujuh
hari lagi, maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat, sampai
lewat sepertiga malam.
Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam. Dan pada malam ke lima, beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separoh malam. Lalu kami berkata
kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersada,
“Barang siapa shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai. maka ditulis untuknya shalat satu malam (suntuk).”
Kemudian beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak memimpin shalat lagi, hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat falah. saya (perawi) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata,
“Sahur”. (HR Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad.
Shahih)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa Tarawih 11 Rakaat dilakukan dengan cara 4 Rakaat, lalu 4 Rakaat + Witir 3 Rakaat, sekali salam tanpa tahiyat awal.
Atau 11 rakaat itu, 8 untuk shalat sunnah tarawihnya + 3 shalat witir.
Caranya untuk shalat 8 rakaatnya setiap 2 rakaat salam (sampai 8 rakaat) .
Dan 3 rakaatnya untuk witir, Mengerjakan tiga rakaat dengan pola 2 – 1 (dua raka’at salam, lalu satu raka’at salam)
SABAR DALAM BERPUASA NAMUN TAK SABAR DALAM MENDIRIKAN SALAT
Asy-Syeikh Al-Allamah Muhammad Bin Saleh Al-Utsaimin – rahimahullah – berkata:
Diantara hal aneh di zaman kita ini bahwa diantara manusia ada yang sabar terhadap puasa dan mengagungkannya namun dia tidak sabar terhadap salat, di dalam hatinya tidak terdapat pengagungan terhadap salat apa yang di dalam hatinya (padahal) terdapat pengagungan terhadap puasa, engkau mendapati dia berpuasa ramadhan akan tetapi dia tidak salat kecuali dari ramadhan ke ramadhan, ini jika dia salat di dalam ramadhan, tidak diragukan bahwa ini adalah kekeliruan dalam berfikir.
Empat hal yang mendatangkan rezeki:
1. Shalat malam
2. Memperbanyak istighfar di waktu sahur (Sebelum Shubuh)
3. Membiasakan sedekah
4. Berdzikir pagi dan petang
(Sumber: Zadul Ma’ad juz 4 hal 378)

