KTQS # 2112
UJUB MERUSAK AMAL
Ujub dapat merusak amalan kebaikan. Sa’id bin Jubair berkata,
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia malah merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga”.(Majmu’ Al Fatawa, 10: 294)
“Untung ada saya”.
“Dia bisa begitu karena saya”.
” Saya lho yang bantu dia”.
“Siapa dulu dong, gue gitu loh”.
“Siapa dulu dong ibunya, bapaknya”.
Seringkah mendengar kalimat-kalimat ini? Atau, malah pikiran dan lisan kita sendiri yang menuturkannya. Kita mungkin juga pernah berpikir,
“Aku lebih baik dari dia”.
“Aku lebih sholeh/sholehah dibanding dia”.
“Jabatan dan status sosialku lebih tinggi dibanding mereka”.
“Ibadahku lebih banyak”.
“Jilbabku lebih panjang”.
“Sholatku lebih khusyu”.
“Sedekahku dimana-mana”.
Na’udzubillah min dzalik, bila kalimat-kalimat ini keluar dari lisan kita atau fikiran-fikiran ini ada dalam benak kita.
Kalimat dan fikiran yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita menganggapnya hal biasa.
Kalimat yang tanpa kita sadari mengandung kesombongan dan sifat ujub yang merupakan sifat tercela yang harus dihindari oleh seorang muslim.
Ujub merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang secara harfiah artinya keangkuhan, kesombongan, atau rasa bangga (KBBI).
Ujub adalah merasa diri lebih baik, lebih hebat, merasa berjasa pada keadaan atau kehidupan orang lain. Ujub merupakan salah satu penyakit hati yang tidak seharusnya ada dalam diri seorang muslim.
Karena sifat ini akan membawa seseorang pada murka Allah.
“Seseorang yang menyesali dosanya, maka ia menanti rahmat Allah. Sedang seseorang yang merasa ujub, maka ia menanti murka Allah” (HR. Baihaqi).

