KTQS # 2458
JANGAN SALAH ARAH :
MENJADIKAN ORANG KAFIR SEBAGAI PELINDUNG BUKAN TUNTUNAN
Wahai kaum muslimin, jangan sampai kita tertipu oleh propaganda zaman.
Dalam Islam, loyalitas (wala’) adalah perkara aqidah. Allah sudah memberikan garis tegas: siapa yang menjadi pelindung, penolong, dan sandaran kekuatan umat.
Dalil dari Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (pelindung); sebagian mereka adalah pelindung bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pelindung, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 51)
Dan juga:
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (pelindung) dengan meninggalkan orang-orang beriman…” (QS. Ali ‘Imran: 28)
*Makna penting: Yang dilarang bukan sekadar berinteraksi, tetapi menjadikan mereka sebagai tempat bergantung, pelindung, dan kekuatan utama, apalagi sampai mengorbankan kepentingan umat Islam.*
Bagaimana tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pernah bermuamalah (berinteraksi) dengan non-muslim:
– Berdagang dengan orang Yahudi
– Membuat perjanjian (seperti Piagam Madinah)
– Bahkan pernah meminjam perlengkapan perang
Namun,
Beliau TIDAK pernah menjadikan orang kafir sebagai pelindung utama.
Dalam hadits disebutkan:
“Kami tidak meminta bantuan kepada orang musyrik.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan prinsip kehati-hatian dalam urusan kekuatan dan perlindungan umat.
Boleh:
– Berinteraksi
– Bekerja sama dalam urusan dunia yang tidak merugikan Islam
Tidak boleh:
– Menjadikan mereka sebagai pelindung utama
– Menggantungkan kekuatan umat kepada mereka
– Lebih loyal kepada mereka daripada kaum muslimin
Kalau hari ini ada yang membela kekuatan kafir, & bergantung pada mereka, bahkan mengorbankan umat Islam demi mereka…
Maka itu bukan jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Tapi jalan yang sudah diperingatkan dalam Al-Qur’an.

