KTQS # 2423 TIDAK PERNAH BACA DOA KETIKA HUBUNGAN INTIM

KTQS # 2423

TIDAK PERNAH BACA DOA KETIKA HUBUNGAN INTIM

Pertanyaan :
Assalamulaikum warrohmatullah wabaraktuh, Maaf pak Ustadz saya orang yg baru belajar agama, katanya jika berhubungan suami istri sebelum berhubungan harus membaca doa dulu dan ada adab adab nya, dan kata teman saya jg jika sebelumnya tdk menbaca doa dulu nanti anak nya jd anak yg nakal / tdk sholeh. Saya menyesal saya yg telat bertaubat dan knp baru sekarang saya belajar agama sesuai al qur’an dan tuntunan rassulullah.

Pertanyaan saya yg pertama, apakah anak saya nantinya akan tetap bandel meski saya didik dengan agama yg benar ?

Yg ke dua apakah Allah akan selalu membimbing kpd orang yg seperti saya ?

Sukron. Wassalam

Jawaban:
Wa alaikumus salam wa rohmatullah wa barakatuh

Pertama, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk selalu berdoa dalam banyak kesempatan dan kegiatan. Di antaranya, berdoa sebelum melakukan hubungan badan.

dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin menggauli istrinya, dan dia membaca doa:

بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa”

”Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” (HR. Bukhari no.141 dan Muslim no.1434)

Kedua, Berdasarkan hadis di atas, salah satu sebab untuk melindungi anak dari godaan setan adalah dengan membaca doa sebelum melakukan hubungan badan.

Hanya saja perlu dipahami, bahwa itu hanya salah satu sebab. Artinya, masih ada sebab lain yang membentuk karakter seorang anak.

Karena setiap kejadian ada sebab dan ada penghalang. Usaha orang tua, yang berdoa ketika hendak berhubungan badan, merupakan salah satu sebab agar anak tersebut selamat dari godaan setan. Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya, terdapat banyak penghalang dan sebab lainnya, yang membuat anak ini tidak bisa bersih dari godaan setan, sehingga dia melakukan kemaksiatan. (Taisirul Alam Syarah Umdatul Ahkam, 1/588)

Banyak sahabat yang mereka terlahir dari orang tua zaman jahiliyah. Banyak kaum muslimin yang mereka dari orang tua yang kafir. Namun, ketika mereka masuk islam, dan mendapat sentuhan pendidikan islam, mereka menjadi pasukan Allah dan musuh bagi iblis.

Oleh karena itu, Masih terbuka lebar, jalan untuk menjadikan mereka orang baik. Salah satunya, dengan memberikan mereka pendidikan (agama) dan komunitas yang baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap anak terlahir di atas fitrah, kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari 1385, Abu Daud 4714, dan yang lainnya).

Allahu a’lam.

NEXT :
Apakah Istri Juga Membaca Doa ketika Jimak?

SISIPAN

*Yuk kita berbenah fisik, berbenah hati, kita kembali*

Yang benar-benar kita miliki adalah saat ini, karena ‘nanti’ belum tentu kita sampai.

Apa yang kita miliki sekarang, esok belum tentu ada lagi, jangan angkuh “masih ada hari esok untuk bersedekah”. Percepatlah!

Dan percepatlah segala niat kembali (taubat), niat berbuat baik dan berbenah diri, sungguh kita senantiasa berpacu dengan waktu, berpacu dengan kematian yang terus saja memburu. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus (taubatan nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah,

“Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/61)

‎بارك الله فيكم

SISIPAN

*Orang yang hidupnya ga enakan, akan terus ketemu sama orang yang gatau diri*

Ada orang yang menjalani hidup dengan selalu menimbang perasaan orang lain, bahkan ketika hatinya sendiri terasa berat. Ia memilih diam, mengalah, dan tersenyum agar suasana tetap aman. Tanpa disadari, sikap itu sering dibaca sebagai keleluasaan oleh mereka yang tidak peka terhadap batas.

Kebaikan yang tidak dibarengi ketegasan perlahan berubah menjadi celah. Orang-orang yang terbiasa mengambil keuntungan akan merasa nyaman berada di dekatnya, karena tidak ada penolakan yang jelas. Di titik ini, rasa tidak enak bukan lagi soal empati, melainkan kebiasaan mengorbankan diri demi menghindari konflik.

Belajar menghargai diri sendiri berarti berani berkata cukup pada waktunya. Menjaga batas bukan tanda keegoisan, tetapi bentuk kejujuran terhadap diri sendiri. Ketika seseorang mulai tegas pada pilihannya, lingkungan pun akan menyesuaikan, dan hanya orang-orang yang tahu diri yang akan bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *