KTQS # 2427 *📖Membedah Tafsir Surat Al-Kafirun dalam Menyikapi Toleransi Kebablasan Saat Ini*

KTQS # 2427

*📖Membedah Tafsir Surat Al-Kafirun dalam Menyikapi Toleransi Kebablasan Saat Ini*

Surat Al-Kafirun adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Surat ini juga dikenal dengan nama surat qul ya ayyuhal kafirun. Selain itu, surat ini juga disebut sebagai surat Al-Ikhlas bersama surat Al-Ikhlas yang sudah diketahui oleh seluruh kaum muslimin yang diawali qul huwallahu ahad. Hal itu karena kedua surat ini menjelaskan tentang bara’ah minas syirk (berlepas diri dari kesyirikan).

Surat Al-Kafirun adalah surat yang menjelaskan tentang berlepas diri dari kesyirikan secara amalan. Sedangkan surat Al-Ikhlas adalah surat yang menjelaskan tentang berlepas diri dari kesyirikan, tetapi dari sisi ilmu yaitu bahwasanya Allah itu Maha Esa.

Para ahli tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya surat ini. Orang-orang musyrikin senantiasa merayu Nabi agar menghentikan dakwahnya, dakwah yang mengajak kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan. Akhirnya mereka menempuh berbagai macam cara, mereka menawarkan kepada Nabi harta, tahta, dan jabatan. Tapi Nabi tidak tertarik dengan itu semua. Akhirnya ditawarkan kepadanya wanita tercantik, tetapi Nabi juga tidak tertarik dengan itu. Mereka terus memberikan penawaran kepada Nabi dan beliau terus menolak.

Akhirnya pentolan kafir Quraisy Al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf datang kepada Nabi memberikan penawaran yang lain, mereka mengajak Nabi menyembah Tuhan mereka selama setahun saja dan setelah itu giliran mereka menyembah Tuhannya Nabi selama satu tahun berikutnya. Allah memerintahkan kepada Nabi untuk menolak penawaran tersebut. Kemudian Allah menurunkan surat Al-Kafirun, sebagai bentuk tegas penolakan Nabi terhadap ajakan mereka.

Lihatlah bagaimana usaha yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin untuk menghentikan dakwah tauhid, bahkan mereka rela bertauhid selama setahun. Andai saja Nabi menyembah tuhan-tuhan mereka walaupun sekejap mata niscaya Nabi telah terjerumus ke dalam kesyirikan sehingga rusaklah tauhidnya.
Oleh karena itu, Nabi tidak tawar-menawar dalam masalah ini. Dengan tegas Nabi menolaknya. Berbeda dalam kondisi-kondisi yang lain, terkadang Nabi menggunakan kata-kata yang lembut untuk mengambil hati mereka. Tetapi karena ini berkaitan tauhid dan syirik maka Nabi membantah dengan perkataan yang tegas dengan ayat-ayat pada surat ini.

Allah berfirman
1. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
_“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Hai orang-orang kafir’”_
2. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
_“Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah”_
3. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
_“Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”_
4. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
_“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah”_
5. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
_“Dan kalian tidak pernah pula menyembah Tuhan yang aku sembah”_
6. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
_“Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku”_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *