KTQS # 2062
MEMUTUSKAN SILATURAHIM : SEPERTI APA?
TANYA :
Bismillah, Afwan ustadz bagaimana hukumnya orang yang memutuskan silaturahmi?
JAWAB :
Arti silaturahim itu menyambungkan kasih sayang (Ar-Rahim)
Jika malah banyak mudharatnya justru harus menghindar, harus diputuskan,
Jadi harus jelas selama ini bentuk silaturahimnya seperti apa, sesuai dengan sifat Allah ar-Rahim tidak, setelah itu baru kita bisa mengkatagorikan bentuk silaturahim nya.
Memutuskan silaturahim itu artinya bukan memutuskan hubungan.
Memutuskan hubungan dengan orang lain yaitu memutuskan ke mudharatan, memutuskan kerusakan, memutuskan kejahatan, memutuskan keburukan itu justru baik dan wajib dilakukan.
Jika memutuskan hubungan yang banyak mudharatnya, justru sejatinya menyambungkan silaturahim, karena makna dari silaturahim adalah menyambungkan kasih sayang, Rahim adalah salah satu sifat Allah dalam asmaul husna.
Jadi, berhubungan dengan orang lain harus sesuai dengan syariat Allah, jika melanggar syariat Allah, sejatinya itu memutuskan silaturahim, memutuskan hubungan dengan Allah, walaupun tampak dzahirnya sering bertemu dan bertegur sapa, tapi sesungguhnya hubungan mereka tidak bersifat silaturahim, malah berdosa.
Berhati-hatilah dan pilih pilih dalam melakukan Silaturahim karena akibatnya mengerikan.
Dari Jubair bin Muth‘im radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi’”. (HR. Bukhari no. 5984 dan Muslim no. 2556)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, seorang lelaki berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku menyambung silaturahmi kepada mereka, namun mereka memutuskan silaturahmi kepadaku. Aku berbuat baik kepada mereka, namun mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar dengan mereka sementara mereka berbuat tidak baik terhadapku.”
Lalu Rasulullah memberi tanggapan, “Kalau engkau benar sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas ke dalam mulut-mulut mereka. Akan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu atas mereka selama engkau dalam kondisi demikian”. (HR. Muslim no. 2558)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kalau dalam kondisi demikian, maka sesungguhnya engkau menghinakan mereka, seakan-akan engkau memasukkan debu yang panas ke dalam mulut mereka, karena mereka berusaha berbuat buruk dan engkau terus membalas dengan kebaikan.
Ini adalah tingkat silaturahmi yang tertinggi, karena menyambung silaturahmi bukan untuk mendapatkan balasan kebaikan dari kerabat/orang lain, tetapi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beberharap surga.
Notes :
“Aku lebih menghargai orang yang BERADAB daripada berilmu”
“Kalau hanya BERILMU iblis pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia”

