KTQS # 2430 TENTANG PUASA 27 RAJAB

KTQS # 2430

TENTANG PUASA 27 RAJAB
(Jum’at 16 Januari 2026)

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (w. 1420 H) ketika ditanya terkait dengan berpuasa pada tanggal 8 dan 27 Rajab menjawab di dalam kitabnya Fatawa Nurun ‘ala Ad-Darbisebagai berikut :

Mengkhususkan hari-hari itu dengan puasa adalah bid’ah. Nabi SAW tidak pernah berpuasa pada tanggal 8 dan 27 Rajab, tidak memerintahkannya dan tidak mentaqrirnya. Maka hukumnya bid’ah. [1]

Ibnu Utsaimin (w. 1421 H) ketika ditanya tentang hukum puasa pada tanggal 27 Rajab dan shalat sunnah di malam harinya, beliau pun menjawab sebagaimana yang tertuang di dalam kitabnya Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusysyeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin sebagai berikut :

Puasa pada hari ke 27 bulan Rajab dan bangun malam dan mengkhususkan hal itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat.[2]

Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan di dalam kitab Majmu’ Fatawa Fadhilatusysyeikh Shalih bin Fauzan menuliskan sebagai berikut :

Tidak ada landasan kuat untuk ibadah khusus di Bulan Rajab, tidak itu puasa, shalat ataupun umrah. Tidak ada yang khusus dengan bulan Rajab. Mereka yang mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah adalah tukang bid’ah.[3]

Muhammadiyah, tidak ada puasa khusus dibulan Rajab kecuali ouas puasa sunnah senin kamis, yaumil bidh, puasa daud. [4] [5] Persatuan Islam (PERSIS), tidak ada amalan puasa khusus yang disunnahkan atau diwajibkan hanya untuk bulan Rajab karena hadis-hadis tentang keutamaan puasa Rajab spesifik kebanyakan lemah atau palsu, namun Rajab adalah bulan haram, sehingga puasa sunnah (seperti puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, atau puasa mutlak) tetap dianjurkan sebagai amal saleh, sama seperti bulan haram lainnya, sesuai pemahaman Al-Qur’an dan Sunnah, bukan karena kekhususan Rajab itu sendiri.

Catatan Kaki :
[1] Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Fatawa Nurun ‘ala Ad-Darbi, jilid 11 hal. 2
[2] Ibnu Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusysyeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, jilid 20 hal. 50
[3] Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Majmu’ Fatawa Fadhilatusysyeikh Shalih bin Fauzan, jilid 2 hal. 438
[4] Majlis Tarjih Muhammadiyah jilid 2 hal 52
[5] Fatwa Dewan Hisbah PP Persis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *