KTQS # 2099
INILAH YANG LEBIH MEMUNGKINKAN TERJADINYA MALAM AL-QADR
Berkata As-Syaikh Prof. Dr. Abdussalam As-Suhaimi hafizhahullah:
Lailatul Qadar di malam 27 lebih memungkinkan terjadi, dan telah datang dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Ibnu Umar dalam riwayat Ahmad dan dari hadits Mu’awiyah pada Abu Dawud bahwa nabi bersabda:
“Lailatul Qadar adalah malam dua puluh tujuh”. (Musnad Ahmad dan Sunan Abi Dawud 1386)
Dan keberadaannya pada malam 27 itu adalah madzhab (pendapat) kebanyakan sahabat dan jumhur ulama, sampai-sampai Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu bersumpah dan tidak mengecualikan bahwa ia adalah malam 27.
Berkata Zirr bin Hubaisy: aku katakan: berdasarkan apa engkau mengatakan itu wahai Abal Mundzir? Beliau menjawab:
“Dengan tanda-tandanya, atau dengan pertanda yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritahukan kepada kami bahwa matahari akan terbit pada hari itu tidak sinarnya yang terik baginya”. Riwayat Muslim (2/26). Dan diriwayatkan tentang penentuannya terhadap malam ini beberapa hadits marfu’ yang banyak.
BEBERAPA PERKARA YANG DIJADIKAN KESIMPULAN LAILATUL QADR MALAM KE 27
> Dikatakan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu:
“Ia adalah malam dua puluh tahun”
Dan beliau mengambil kesimpulan demikian dengan kesimpulan yang mengagumkan dari beberapa perkara, dan telah disebutkan bahwa Umar Radhiyallahu Anhu pernah mengumpulkan para sahabat dan mengungkapkan Ibnu Abbas bersama mereka dan ketika itu beliau masih muda dan mereka berkata:
Sesungguhnya Ibnu Abbas seperti anak-anak kita maka mengapa engkau mengumpulkannya bersama kami? Maka Umar menjawab:
“Sesungguhnya beliau adalah seorang anak muda namun memiliki hati yang berakal, lisan yang dapat dipertanggungjawabkan”,
Kemudian Umar bertanya kepada para sahabat tentang Lailatul Qadar, dan mereka sepakat bahwa malam itu terjadi pada sepuluh malam terakhir dari Ramadhan, lalu bertanya kepada Ibnu Abbas tentang malam itu, dan beliau menjawab: “Sesungguhnya aku mengira dimana dia berada, bahwa malam itu berada di malam dua puluh tujuh”, maka Umar berkata: dari mana engkau tahu? Maka Ibnu Abbas berkata:
“Sesungguhnya Allah ta’ala telah menciptakan langit-langit sebanyak tujuh lapis, dan menciptakan bumi-bumi sebanyak tujuh lapis, dan menjadikan hari-hari berjumlah tujuh hari, dan menciptakan manusia dari tujuh tahapan, dan menjadikan thawaf sebanyak tujuh kali, dan sa’i sebanyak tujuh kali, dan melempar jumroh sebanyak tujuh kali”. Maka Ibnu Abbas menilai bahwa malam itu adalah malam dua puluh tujuh dari sisi pengambilan kesimpulan ini, dan seakan ini adalah telah valid dari Ibnu Abbas.
> Dan diantara perkara yang dijadikan kesimpulan darinya bahwa Lailatul Qadar adalah malam dua puluh tujuh: bahwa kalimat tentangnya (yaitu kalimat: هي pent) dari firman Allah ta’ala:
{ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ فِیهَا } [سُورَةُ القَدۡرِ: ٤]
Adalah kalimat kedua puluh tujuh dari surat Al-Qadr.
Ini tidak ada dalil syar’i tentangnya, sehingga tidak ada keperluan terhadap perhitungan yang demikian, dan di hadapan kita ada dalil-dalil syar’i yang mencukupi bagi kita.
Akan tetapi keberadaannya pada malam dua puluh tujuh adalah perkara yang umum wallahu a’lam dan bukan terus menerus demikian, karena terkadang ia bisa terjadi pada malam dua puluh satu, sebagaimana datang dalam hadits Abu Sa’id, dan terkadang terjadi pada malam dua puluh tiga sebagaimana datang dalam riwayat Abdullah bin Unais Radhiyallahu Anhu, dan di dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma disebut bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Carilah ia di sepuluh terakhir dari Ramadhan pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, dan kelima yang tersisa” HR. Bukhari (4/260).
Dan sebagian ulama menguatkan bahwa ia dapat bergantian dan tidak menetap pada malam tertentu setiap tahunnya, berkata An-Nawawi rahimahullah:
“Dan ini yang tampak dan terpilih berdasarkan hadits-hadits yang shahih yang berbicara tentang itu, dan tidak ada jalan untuk menggabungkan diantara hadits-hadits tersebut kecuali dengan menetapkan keberpindahannya” Al-Majmu’ (6/450).
Hanya saja Allah ta’ala merahasiakan malam ini agar para hamba bersemangat dalam mencarinya, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah, sebagaimana Allah rahasiakan waktu Jumat dan lainnya.
Maka seharusnya bagi seorang mukmin untuk bersungguh-sungguh pada hari-hari dan malam-malam kesepuluh ini demi mencari Lailatul Qadar, karena menyontoh nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersungguh-sungguh dalam berdoa dan bersimpuh kepada Allah.
Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: wahai Rasulullah apa pendapatmu jika aku bertepatan dengan Lailatul Qadar maka apa yang harus aku ucapkan? Beliau menjawab: ucapkanlah:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf lagi dermawan yang mencintai pemberian maaf maka maafkanlah kesalahanku”. HR. Ahmad, Tirmidzi (3513), dan Ibnu Majah (3850) dengan sanad yang shahih.

