All for Joomla All for Webmasters

KTQS # 1472 Adab Menguap, Sendawa dan Kentut (1)

KTQS # 1472

Adab Menguap, Sendawa dan Kentut (1)

Menguap,Sendawa dan Kentut sering kita temui hampir setiap hari terjadi pada diri kita atau kita melihat orang lain melakukannya.

Keistimewaan syari’at Islam adalah tidak satupun aktivitas seorang manusia melainkan telah ada petunjuk dan aturannya di dalam ajaran islam, termasuk Adab Menguap, Sendawa dan Kentut.

Menguap

Menguap adalah sebuah gerakan refleks menarik dan menghembuskan napas karena seseorang merasa letih atau mengantuk.

Ada petunjuk dalam sumnah yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri. (Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyah fii Al-Islam)

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda, “…Adapun menguap, maka dia tidaklah datang kecuali dari setan. Karenanya hendaklah menahan menguap semampunya. Jika dia sampai mengucapkan ‘hoaah’, maka setan akan menertawainya.” (HR. Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Bila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah dia menahan mulutnya dengan tangannya karena sesungguhnya setan akan masuk.” (HR. Muslim no. 2995)

Ketika seseorang ingin menguap hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, karena menguap adalah salah satu perbuatan yang buruk dan Tidak ada dalil untuk membaca dzikir apapun yang dibaca ketika menguap.

Hadits tentang menguap berasal dari setan juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan lafazh:

“Menguap ketika shalat adalah dari setan, jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah semampunya.” (HR. Tirmidzi)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan : “Dan di antara yang diperintahkan bagi orang yang menguap adalah: jika sedang shalat, maka dia harus menghentikan bacaannya sampai menguapnya selesai, agar bacaannya tidak berubah”. Pendapat yang seperti ini disandarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Mujahid, ‘Ikrimah, dan para tabi’in.

Salam !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *